Foto

Rabu, 02 November 2011

Belajar Meraih Ihsan


Ketika kita memperbincangkan derajat manusia sering kita tertipu oleh derajat kelahiriah dan melupakan derajat batiniah, hampir semua orang mengunggulkan dan membanggakan identitas keilmuannya, pangkatnya, kekayaannya, ketenarannya. Dan melupakan derajat kepribadian dan kejiwaanya. Sementara dalam hadis dikatakan,...khoirunnas ahsanuhum huluqon waa anfa’uhum linnasi, sebaik-baik manusia adalah yang bagus akhlaknya dan bermanfaat bagi sesama.

            Derajat ihsan itu merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga allah ‘azza wa jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.
kita pernah mendengar antara islam, iman, dan ihsan apa sebenarnya pengertian dari tiga tingkatan tersebut? Suatu ketika malaikat jibril ‘alaihis sallam datang di majelis rasulullah shallahu ‘aaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada rasulullah shallahu ‘aaihi wa sallam beberapa pertanyaan. Diantara pertanyaannya adalah tentang makna islam, iman, dan ihsan. Kemudian rasulullah shallahu ‘aaihi wa sallam menjawabnya dan dibenarkan oleh jibril. Berdasarkan hadist rasul, kemudian para ulama membagi agama islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan ihsan.
            Tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba allah yang shalih. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya.
            Adapun yang dimaksud ihsan menurut hadist riwayat muslim ialah :

Qola fah birni nganil ihsani anta’budallaha kaannaka tarohu fainlam tarohu fainnahu yaroka.

Yang artinya : wahai rasulullah, apakah ihsan itu? “beliau menjawab, ‘kamu meyembah allah seakan-akan kamu melihatNya, maka jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R.muslim).
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar