Foto

Jumat, 25 Mei 2012

ekonomi sma kelas X


Soal ;
1.      Perilaku konsumen tentang nilai barang dan jasa.
a.      Nilai pakai  ;    -      obyektif (contoh)
-          Subyektif (contoh)
b.      Nilai tukar ;     -      obyektif (contoh)
-          Subyektif (contoh)
2.      Hokum gosen 1 dan gosen 2 dijelaskan teorinya



1.    Perilaku nilai barang dan jasa
a.      Nilai pakai (value in use)
Nilai pakai adalah kemampuan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Nilai pakai di bedakan menjadi dua, yaitu obyektif dan subyektif.
1.      Nilai pakai obyektif
Adalah nilai suatu barang karena kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan orang pada umumnya. contoh ; jasa arsitek di mana manusia mempunyai nilai yang sama, yaitu dapat memberikan jasa perancang bangunan.
2.      Nilai pakai subyektif
Adalah nilai yang di berikan oleh seseorang atas kemempuan suatu barang untuk memenuhi kebutuhannya. Contoh ; sebuah komputer akan di pandang sangat berguna di mata seorang sekertaris, sementara bagi anak kecil, konputer hanya berguna untuk mainan.
b.      Nilai tukar (value in exchange)
Nilai tukar adalah kemampuan suatu barang untuk di tukarkan dengan barand lainnya.
Nilai tukar dibedakan menjadi dua nilai tukar obyektif dan subyektif.
1.      Nilai tukar obyektif
Adalah nilai suatu barang karena kemampuannya untuk dapat di tukarkan dengan barang/jasa lain. Contoh ; pada umumnya orang tidak keberatan untuk mengganti penggunaan jasa bus menjadi kereta api atau mengganti daging ayam dengan daging sapi.
2.      Nilai tukar subyektif
Adalah nilai yang di berikan seseorang terhadap suatu barang dan jasa karena bias di tukar dengan barang/jasa lain. Contoh ; seorang pelukis cat minyak, tidak akan mau menukar cat minyakk dengan cat cair, walaupun keduanya scara umum dianggap  memiliki nilai yang sama. Akan tetapi seorang pelajar yang sedang belajar melukis, bisa jadi setuju untuk mengganti cat minyak dengan cat air karena keduanya memiliki nilai yang sama.
 2.     Hukum gosen 1 dan hukum gosen 2

Hukum gosen 1
Bunyi hukum gosen 1  adalah sebagai berikut ;
Apabila pemuasan kebutuhan di penuhi secara terus menerus maka tingkat kenikmatannya makin lama akan makin berkurang sampai akhirnya tercapai rasa kepuasaan.

Hukum gosen 1 mengajarkan tentang cara pemenuhan kebutuhan secara vertical. Karena pemenuhan kebutuhan hanya tertuju pada satu macam barang saja  sehingga mencapai tingkat guna total tertingi. Hukum gosen 1 di kenal juga dengan hukum kenikmatan yang makin berkurang dan hukum  tambahan kepuasaan yang tidak proposional (the law diminishing marginal itility)


Hukum gosen 2
Bunyi hukum gosen 2 adalah sebagai berikut ;
Manusia akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya yang beraneka ragam sehingga setiap kebutuhan yang di penuhi mencapai intensitas yang sama .

Hukum gosen 2 di kenal dengan hukum keseimbangan nilai batas dan hukum pemuasan kebutuhan secara harmonis. Hukum gosen 2 mengajarkan cara pemuasan kebutuhan tidak hanya secara vertical saja , tetapi juga secara horizontal karena car pemuasan kebutuhan tidak hanya tertuju pada satu macam barang saja, tetapi bermacam macam barang hingga mencapai  tingkat intensitas yang sama.
Seperti diketahui bersama , berdasarkan intensitasnya, kebutuhan hidup dapaat di bagi  menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Apabila seorang konsumen menjatuhkan pilihannya untuk membeli barang sekunder , berarti tingkat intensitas barang tersebut dirasakan sama dengan barang primer. Hal semacam ini hanya akan tejadi apabila sebagian dari kebutuhan primer telah terpenuhi sehingga membeli tambahan barang sekunder dirasakan sama mendesaknya dengan membeli barang primer.

Dari teori konsumsi di atas , dapat kita lihat bahwa suatu barang/jasa di beli oleh konsumen Karena barang/jasa tersebut mengandung nilai guna. Konsumen percaya bahwa barang/jasa yang bersangkutan dapat memuaskan kebutuhannya. Konsumen cenderung membeli barang/jasa pada waktu harga-harga sedang turun dan mengurangi pembelian bila man harga-harga naik. Saat melakukan pembelian, konsumen berusaha membeli barang/jasa dalam jumlah tertentu dan dalam berbagai jenis sesuai dengan jumlah pendapatan konsumen atau yang disebut perilaku konsumen .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar